Make your own free website on Tripod.com
AbOuT LoVe

Home

DeFiNiSi CiNtA
AbOuT LoVe CoUpLe
AbOuT PaReNt
AbOuT fRiEnD
TrUe LoVe
SMiLe
HuKuM PaCaRaN
CeRiTa CiNtA
CeRiTa CiNtA

Ada Sedikit Cerita Yang Sedikit Banyak Berkaitan Dengan Cinta....
Baca Deh ...Kali Aja Mirip Ama Cerita Hidupmu

=========================================================
NiLaI CiNtA
Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda
abstrak:
ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan,
Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik.

Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air
laut
tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan
pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan
diri.
Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak
dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai
mencoba
mencari pertolongan. Sementara itu air
makin naik membasahi kaki Cinta.

Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. "Kekayaan!
Kekayaan!
Tolong aku!" teriak Cinta. "Aduh!
Maaf, Cinta!" kata Kekayaan, "perahuku telah penuh dengan harta
bendaku. Aku
tak dapat membawamu serta, nanti
perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku
ini."

Lalu Kakayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali,
namun kemudian dilihatnya Kegembiraan
lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Tolong aku!", teriak Cinta. Namun
Kegembiraan terlalu gembira karena ia
menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta.

Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin
panik.
Tak lama lewatlah Kecantikan.
"Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!", teriak Cinta. "Wah, Cinta, kamu
basah
dan kotor. Aku tak bisa membawamu
ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut Kecantikan.

Cinta sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat
itu
lewatlah Kesedihan. "Oh, Kesedihan,
bawalah aku bersamamu," kata Cinta. "Maaf, Cinta. Aku sedang sedih dan
aku
ingin sendirian saja..." kata Kesedihan
sambil terus mengayuh  perahunya.

Cinta putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan
menenggelamkannya.
Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar
suara, "Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!" Cinta menoleh ke arah
suara itu
dan melihat seorang tua dengan
perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air
menenggelamkannya.

Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi
lagi.
Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia
sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu.
Cinta segera menanyakannya kepada
seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu.
"Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu." kata orang itu.
"Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan
teman-teman
yang mengenalku pun enggan
menolongku" tanya Cinta heran. "Sebab," kata orang itu, "hanya Waktu
lah
yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari
Cinta itu ..."

====================================================================
BaCa DeNgAn KeRaS
 
"Bacanya yang keras ya Pa ..." Semuanya itu disadari John pada saat dia termenung seorang diri, menatap kosong keluar jendela rumahnya. Dengan susah payah ia mencoba untuk memikirkan mengenai pekerjaannya yang menumpuk. Semuanya sia-sia belaka. Yang ada dalam pikirannya hanyalah perkataan anaknya Magy di suatu sore sekitar 3 minggu yang lalu. Malam itu, 3 minggu yang lalu John membawa pekerjaannya pulang. Ada rapat umum yang sangat penting besok pagi dengan para pemegang saham. Pada saat John memeriksa pekerjaannya, Magy putrinya yang baru berusia 4 tahun datang menghampiri, sambil membawa buku ceritanya yang masih baru. Buku baru bersampul hijau dengan gambar peri. Dia berkata dengan suara manjanya, "Papa lihat!" John menengok kearahnya dan berkata, "Wah, buku baru ya?" "Ya Papa!" katanya berseri-seri, "Bacain dong!" "Wah, Ayah sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh", kata John dengan cepat sambil mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kertas di depan hidungnya. Magy hanya berdiri terpaku disamping John sambil memperhatikan. Lalu dengan suaranya yang lembut dan sedikit dibuat-buat mulai merayu kembali "Tapi mama bilang Papa akan membacakannya untuk Magy". Dengan perasaan agak kesal John menjawab: "Magy dengar, Papa sangat sibuk. Minta saja Mama untuk membacakannya". "Tapi Mama lebih sibuk daripada Papa" katanya sendu. "Lihat Papa, gambarnya bagus dan lucu." "Lain kali Magy, sana! Papa sedang banyak kerjaan." John berusaha untuk tidak memperhatikan Magy lagi. Waktu berlalu, Magy masih berdiri kaku disebelah Ayahnya sambil memegang erat bukunya. Lama sekali John mengacuhkan anaknya. Tiba-tiba Magy mulai lagi "Tapi Papa, gambarnya bagus sekali dan ceritanya pasti bagus! Papa pasti akan suka". "Magy, sekali lagi Ayah bilang: Lain kali!" dengan agak keras John membentak anaknya. Hampir menangis Magy mulai menjauh, "Iya deh, lain kali ya Papa, lain kali". Tapi Magy kemudian mendekati Ayahnya sambil menyentuh lembut tangannya, menaruh bukunya dipangkuan sang Ayah sambil berkata "Kapan saja Papa ada waktu ya, Papa tidak usah baca untuk Magy, baca saja untuk Papa. Tapi kalau Papa bisa, bacanya yang keras ya, supaya Magy juga bisa ikut dengar". John hanya diam. Kejadian 3 minggu yang lalu itulah sekarang yang ada dalam pikiran John. John teringat akan Magy yang dengan penuh pengertian mengalah. Magy yang baru berusia 4 tahun meletakkan tangannya yang mungil diatas tangannya yang kasar mengatakan: "Tapi kalau bisa bacanya yang keras ya Pa, supaya Magy bisa ikut dengar". Dan karena itulah John mulai membuka buku cerita yang diambilnya, dari tumpukan mainan Magy di pojok ruangan. Bukunya sudah tidak terlalu baru, sampulnya sudah mulai usang dan koyak. John mulai membuka halaman pertama dan dengan suara parau mulai membacanya. John sudah melupakan pekerjaannya yang dulunya amat sangat penting. Ia bahkan lupa akan kemarahan dan kebenciannya terhadap pemuda mabuk yang dengan kencangnya menghantam tubuh putrinya di jalan depan rumah. John terus membaca halaman demi halaman sekeras mungkin, cukup keras bagi Magy untuk dapat mendengar dari tempat peristirahatannya yang terakhir. Mungkin... JANGAN JADIKAN DIRI ANDA SEPERTI JOHN, SAAT SEMUANYA TERJADI,PENYESALAN SUDAH SANGAT TERLAMBAT...... LAKUKAN SESUATU SEBELUM ANDA TERLAMBAT UNTUK MENYADARINYA, BERIKANLAH KEBAHAGIAAN BAGI MEREKA YANG ANDA CINTAI. APAKAH ANDA BENAR-BENAR MENCINTAI MEREKA? 
 

====================================================================

ARTI CINTA

Alkisah, di suatu pulau kecil tinggallah berbagai benda abstrak ada CINTA, kesedihan, kegembiraan, kekayaan, kecantikan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu.

Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tidak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air semakin naik membasahi kakinya.

Tak lama CINTA melihat kekayaan sedang mengayuh perahu, "Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!," teriak CINTA "Aduh! Maaf, CINTA!," kata kekayaan "Aku tak dapat membawamu serta nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini." Lalu kekayaan cepat-cepat pergi mengayuh perahunya. CINTA sedih sekali, namun kemudian dilihatnya kegembiraan lewat dengan perahunya. "Kegembiraan! Tolong aku!," teriak CINTA. Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak dapat mendengar teriakan CINTA. Air semakin tinggi membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin panik.

Tak lama lewatlah kecantikan "Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!," teriak CINTA "Wah, CINTA kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu pergi. Nanti kau mengotori perahuku yang indah ini," sahut kecantikan. CINTA sedih sekali mendengarnya. Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itulah lewat kesedihan "Oh kesedihan, bawlah aku bersamamu!," kata CINTA. "Maaf CINTA. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja..," kata kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. CINTA putus asa.

Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara "CINTA! Mari cepat naik ke perahuku!" CINTA menoleh ke arah suara itu dan cepat-cepat naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, CINTA turun dan perahu itu langsung pergi lagi. Pada saat itu barulah CINTA sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa yang menolongnya. CINTA segera bertanya pada penduduk pulau itu. "Yang tadi adalah WAKTU," kata penduduk itu "Tapi, mengapa ia menyelamatkan aku? Aku tidak mengenalinya. Bahkan teman-temanku yang mengenalku pun enggan menolong" tanya CINTA heran "Sebab HANYA WAKTULAH YANG TAHU BERAPA NILAI SESUNGGUHNYA DARI CINTA ITU"

======================================================================

C I N T A R A S U L

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya.Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Al-Qur'an dan Sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku. Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam...... Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa. Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membukakan mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut," kata Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampir tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, elaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali ummat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." adan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya, "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum" Peliharalah shalatmu dan santuni orang-orang lemah diantaramu. Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii,ummatiii" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. Kini, mampukah kita mencinta sepertinya? Yang begitu besar rasa cinta Beliau kepada ummatnya. Yang begitu besar rasa kasih sayangnya kepada anak yatim (piatu) dan kaum dhuafa. Sudahkah kita mencintai kedua orang tua kita dengan tulus? Mengecup kedua tangannya, membahagiakan mereka sehingga senyum merekah karena kita. Mencintai keluarga kita. Mencintai tetangga-tetangga kita. Mencintai saudara-saudara muslim kita, yang mungkin saat ini sedang menderita yang amat sangat, baik itu karena penindasan kaum kuffar durjana maupun karena kemiskinan, baik yang berada di sekitar kita maupun di belahan bumi lain. Dan mudah-mudahan saja kita bukan termasuk orang-orang yang lalai dalam sholatnya. Dan Islam tidak saja mengagungkan cinta, tapi memberikan contoh kongkrit dalam kehidupan, lewat kehidupan manusia mulia, Rasulullah tercinta ... Semoga taufik dan hidayah Allah SWT selalu tercurahkan kepada kita. Amin ya Rabbil'alamin.

========================================================================
 ::: TOPI ::: 
Jony sedang jatuh cinta kepada temannya yang bernama  Ani. Karena Jony ini  orangnya penakut dan kurang PD, jadi dia nggak  berani menyatakan cintanya ke  Ani.  Setelah selama sebulan berpikir gimana caranya  dapetin Ani, akhirnya Jony  memutuskan untuk memberikan sebuah hadiah kepada  Ani.  Setelah berpikir panjang, Jony memutuskan untuk  memberikan hadiah topi  kepada Ani. Untuk menjalankan niatnya, Jony pergi ke Ramayana  dept. store.  Setelah mendapatkan topi pilihannya, Jony bergegas  untuk membayar ke kasir. Karena suasana di Ramayana dept. store waktu itu  lagi ramai (pas lagi ada  discount) jadi kasir yg biasa membungkus  barang-barang agak sedikit kerepotan, akibatnya tanpa disadari Jony bungkusan  topi yang dibeli Jony itu  tertukar dengan bungkusan yang dibeli wanita  disamping Jony.  Ternyata wanita disampingnya Jony itu membeli celana  dalam. Karena udah  nggak sabar untuk memberikan hadiah ke Ani, tanpa  memeriksa isi bungkusan  itu lagi Jony langsung memberi pesan di bungkusannya  yang berbunyi:  Ani, saya sengaja memberikan hadiah ini ke kamu  karena saya tahu kalau kamu  jarang memakai ini sewaktu bepergian. Saya sengaja  pilih yang warna merah  karena saya pernah melihat kamu pakai yang warna  biru. Saya yakin sekali ukurannya pas untuk kamu, karena sebelum membeli saya  sudah mencobanya dan ukuran kita kan sama. Rasanya  saya ingin sekali  memakaikan ini ke kamu untuk yang pertama kalinya.  Ani, kalau kamu senang dengan hadiah ini, saya berharap kamu memakainya  pada hari Jumat besok.  Temanmu, Jony.
NB: Oya, model terakhir yang sering saya lihat di  film dan majalah, memakainya agak sedikit diturunkan kebawah dengan  sedikit rambut terlihat  didepannya

=========================================================
 
Tell Her Now That You Love Her


Tit.. tiit I luv u Setiap pagi aku
menerima SMS bernada seperti itu. Atau terkadang berupa
gambar yang melambangkan cinta. Bukan siapa-siapa, karena
wanita yang rajin tak pernah absen mengirimiku ungkapan
cinta itu tak lain adalah istriku sendiri. Kemarin
kuberitahu dia bahwa tindakannya itu memalukan, untuk
sebuah keluarga yang sudah memiliki dua anak, tidak
usahlah cinta-cinta-an seperti halnya orang
pacaran atau pengantin baru. Tapi ia tidak menggubrisnya,
bahkan ia semakin sering dengan menambah rutinitas itu
pada setiap sorenya.

Enam setengah bulan lalu, malah dia melakukan satu
seremoni yang bagiku hanyalah buang-buang uang saja dan
tak selayaknya ia melakukan itu. Malam itu sesampainya aku
di rumah, kudapati rumahku hanya diterangi oleh lampu yang
remang-remang. Rupanya istriku mengganti lampu ruangan
makan kami, agar terkesan lebih romantis, katanya.
Sementara dua anakku sudah terlelap menikmati mimpinya,
kulihat beberapa batang lilin menyala diatas meja makan
yang diatasnya sudah tersedia hidangan penuh selera yang
menjadi kesukaanku. Dengan gaun malamnya, ia terlihat
begitu cantik. Aku baru ingat, hari itu adalah ulang tahun
ketiga pernikahan kami.

Bahkan satu bulan sebelumnya, ia mengajakku keluar bersama
anak-anak. Kami makan di sebuah restoran yang cukup bagus.
Ia yang membayar semuanya, katanya. Pikirku, dari mana ia
mendapatkan uang, toh ia tak bekerja. Akhirnya kuketahui
itu uang yang ia sisihkan dari jatah bulanan yang
kuberikan. Hanya saja bagiku, sekedar merayakan ulang
tahunku tidak perlu repot-repot dan mahal seperti ini.
Cukup dengan membeli makanan di pasar dan dimakan
bersama-sama, selesai, yang penting kita bersyukur
kepada-Nya bahwa kita masih diberikan kekuatan dan
kesabaran dalam mengemban amanah-Nya sampai usia kita
bertambah hari itu. Yang kuheran, malam sebelumnya tepat
pukul 00.01 WIB ketika detik pertama pada tanggal
kelahiranku, sebuah kecupan hangat mendarat di keningku.
Kubuka perlahan mataku dan kudapatkan senyumannya yang
manis. Malam itu ia menghadiahiku sebuah jam tangan yang
didalam bungkus kadonya terdapat sebuah kartu ucapan
bertuliskan: Take My Heart In Your Arm.

  O ya, sekedar memberitahu, handphone yang kupakai
sekarang ini adalah handphone hadiah darinya pada saat
ulangtahun pernikahanku enam setengah bulan yang lalu itu.
Aku sempat menolaknya, karena handphone-ku sebelumnya juga
masih bagus. Dengan sedikit senyum ia menghulurkan
sebungkus kado cantik itu. Didalamnya, kutemukan kembali
sebuah kartu bertuliskan sebuah pesan (harap) singkat:
Keep In Touch, Please . Lucunya, aku
lupa bertanya, bagaimana cara ia mendapatkan barang
semahal itu. Ah mungkin karena aku sedang terkagum-kagum
saja kepada istriku itu, yang membuat aku lupa.

  SMS terakhir yang aku terima pagi ini, masih sama
isinya. Namun entah kenapa hari ini aku menitikkan air
mata. Kuperhatikan kembali rangkaian kata-kata dalam pesan
itu, padahal setiap hari aku membacanya. I-L-U-V-U
kuperhatikan satu persatu huruf yang terangkai singkat
itu, namun titik air dari mataku semakin bertambah. Aku
jadi teringat dengan handphone hadiah darinya, teringat
dengan makan malam istimewa nan romantis saat ulang tahun
pernikahanku enam setengah bulan yang lalu, jam tangan
hadiah darinya saat ulangtahunku, semua perhatian, cinta
dan kasih sayangnya kepadaku. Ooh

  Tiba-tiba mataku menatap lingkaran merah di satu tanggal
pada kalender mejaku. Disitu tertulis, Ultah
istriku. Ya Allah aku hampir saja
melupakannya kalau besok adalah hari ulang tahunnya.
Sementara hari sudah sore, aku bingung harus menyiapkan
hadiah apa untuknya, padahal uangku sudah habis, tak
mungkinlah jika aku meminta kepadanya untuk membeli hadiah
untuknya, jelas nggak surprise. Akhirnya, aku nekat
menelepon beberapa teman dan karibku, atau siapapun yang
bisa kupinjam uangnya. Aku ingin memberinya sesuatu.
Namun, apa daya, tak satupun dari mereka bisa
meminjamkannya karena memang selain mendadak, bukan
tanggal yang tepat bagi siapapun untuk meminjam uang di
tanggal tua.

  Aku lemas, hari sudah terlalu malam bagiku untuk
mengetuk pintu orang kesekian untuk kupinjami uangnya.
Lagipula toko-toko mulai tutup, kalaupun aku mendapatkan
uangnya, sudah terlambat untuk membeli sesuatu. Langkahku
gontai, aku malu jika pulang tak membawa apa-apa. Aku
menyesal, rupanya kesibukan dan sifat egoisku yang selama
ini menutupi semua perhatian dan cinta yang diberikannya,
hingga tak sekalipun aku membalasnya. Sambil berjalan,
lalu terbetik sebuah ide kecil dibenakku

  Aku pulang, kudapati rumahku sudah sepi, istri dan kedua
anakku sudah terlelap. Aku tak ingin membangunkan mereka.
Belum juga mataku merapat karena masih membayangkan betapa
menyesalnya aku yang telah mengabaikan perhatian dan kasih
sayangnya selama ini, bahkan tak sepatah kata
terima kasih pun aku ucapkan untuk semua
cintanya itu. Satu jam kemudian, istriku terbangun untuk
menunaikan sholat malamnya. Biasanya ia membangunkan aku
(atau sebaliknya jika aku bangun terlebih dulu) untuk
sholat bersama. Namun ia tak segera, karena kuyakin
matanya langsung menatap setangkai bunga mawar merah yang
kuletakkan disamping bantal tidurnya. Sementara aku masih
berpura-pura terlelap, namun mataku sesekali menangkap
senyuman di bibirnya ketika ia membaca kertas kecil yang
kuikatkan ditangkai bunga itu, Maafkan abang dik,
yang telah melupakan perhatian dan cinta adik. Bunga ini
memang tidak akan mampu membalas semua yang telah adik
berikan with luv

  Saudaraku, berapapun usia pernikahan anda, tetaplah
perbaharui cinta berdua dengan senantiasa memberikan
perhatian dan kasih sayang. Sehingga kelak, cita-cita
berdua sampai di surga-Nya bukanlah sekedar impian. Dengan
cinta dan perhatian yang tulus kepada pasangan anda,
segala cobaan, ujian seberat apapun akan mampu diatasi
bersama, selamanya, tanpa harus berakhir dengan tangis dan
penyesalan. Sehingga juga dengan itu, waktu yang anda
punya tak habis terpakai untuk menyelesaikan semua
persoalan, dan anda bisa lebih memfokuskan harap dan
doa semoga Allah tersenyum juga mencurahkan
cinta-Nya karena kasih dan sayang setiap hamba kepada
pasangannya. (Bayu Gautama, With Love)

==================================================

KISAH POHON APEL

Suatu ketika hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain dibawah pohon apel itu. Ia senang memanjatnya, tiduran di bawah pohonnya dan memakan buah demikian juga pohon apel sangat sayang dan cinta pada anak tsb. Waktu terus berlalu kini anak lelaki telah tumbuh besar, tapi anak itu tidak lagi bermain main dengan pohon apel. Suatu hari anak itu mendatangi pohon apel dengan wajah sedih, dan bercerita pada pohon apel bahwa ia ingin memiliki mainan. Dan pohon apel dengan senang hati menyuruh anak tadi memetik buah apel tsb dan menjualnya. Setelah itu anak lelaki itu pergi dan tak pernah kembali lagi.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi, pohon apel sangat senang melihatnya, dan pohon apel mengajak anak itu bermain dengannya, tapi anak lelaki itu berkata 'aku tak punya waktu untuk bermain denganmu karena aku harus bekerja untuk keluargaku. Dan aku butuh rumah untuk keluargaku maukah kau menolongku. Lalu pohon apelpun menyuruh anak lelaki tadi menebang pohon apel untuk diambil kayunya lalu pergi dengan gembira. Pohon apel juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.

Akhirnya anak lelaki itu datang setelah bertahun-tahun kemudian, Maaf anakku kata pohon apel itu, aku sudah tidak mempunyai buah apel lagi.Tak apa akupun sudah tidak punya gigi lagi untuk mengigit buahmu jawab anak lelaki itu. Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel sangat gembira dan tersenyum sambil neneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda kita senang bermain dengannya. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apapun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin befikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.

Yang terpenting: cintailah orang tua kita selema mereka masih hidup. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya, dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikanya pada kita.

What I love about the web is the opportunity to share my thoughts and passions with others. But I also like to hear what others think and to exchange ideas.

On this page, I'll share some of the comments I've received in my Guestbook and via e-mail. In some cases, I also may also respond to the comments. Please get in touch!