Make your own free website on Tripod.com
AbOuT LoVe

Home

DeFiNiSi CiNtA
AbOuT LoVe CoUpLe
AbOuT PaReNt
AbOuT fRiEnD
TrUe LoVe
SMiLe
HuKuM PaCaRaN
CeRiTa CiNtA
AbOuT fRiEnD

==========================================================

Teman Sejati
Oleh : Makmun Nawawi

Seorang tabiin, Abu Muslim al-Khaulani, suatu saat masuk masjid dan tiba-tiba melihat sekelompok orang yang tengah berkumpul. Ia berharap bahwa mereka adalah kumpulan orang-orang yang tengah berzikir kepada Allah. Ia pun duduk, berbaur bersama mereka.

Namun, pembicaraan mereka ternyata hanya seputar anak-anak mereka. ''Anak saya melakukan ini,'' ucap mereka kepada sebagian yang lain. Sementara itu, yang lain berkata, ''Saya beri anak saya sesuatu.''

Beliau memandang mereka dengan penuh keheranan. ''Subhanallah! Tahukah kalian, apakah perumpaman aku dan Anda sekalian?'' tanya Abu Muslim al-Khaulani. ''Aku laksana seseorang yang ditimpa hujan sangat deras,'' ujarnya lebih lanjut.

''Aku pun mencari tempat berteduh, kemudian kutemukan sebuah rumah. Pikirku, alangkah baiknya kalau aku bisa berteduh di situ. Namun, sayang, ketika aku masuk, ternyata rumah itu tidak beratap. Aku hadir dengan harapan kalian mengingat Allah, tetapi nyatanya kalian hamba dunia.''

Pertemanan adalah kebutuhan sosial bagi tiap individu, sehingga orang sukses dalam berteman bisa dibilang sebagai orang sukses pula secara sosial. Namun, bagaimana agar kesuksesan horizontal itu juga menjadi kejayaan vertikal, di mana sebuah pertemanan bisa mengantarkan seseorang kepada Ilahi.

Bila di masa tabiin, Abu Muslim al-Khaulani pernah kecele dengan keriuhan banyak orang yang tampaknya bisa menjadi teman sejati, tetapi kehadiran mereka itu seperti fatamorgana, sebagaimana digambarkan dalam narasi di atas, Pada era seperti sekarang ini kita dituntut untuk lebih jeli dalam memilih teman dan komunitas sosial yang layak dijadikan wahana sosialisasi dan aktualisasi diri kita.

Sedemikian besarnya peran, seorang teman juga menjadi salah satu parameter baik dan buruknya seseorang. Nabi bersabda, ''Seseorang itu bergantung pada agama kawan akrabnya, maka hendaklah kamu berhati-hati memilih kawan pendamping.'' (HR Ahmad)
Ketika dunia makin tidak berjarak dan hampir tanpa sekat, orang begitu mudah untuk berbaur satu sama lain, bahkan dalam tataran global, dengan segala motivasi yang menggerakkannya.

Mereka berpotensi menjadi teman sejati yang bisa mendongkrak kesalehan kita, menghaluskan nurani kita, dan meningkatkan spiritualitas kita. Namun, mereka juga bisa menjadi perangkap, pembawa kita ke kubang kenistaan. Bukankah telah banyak pihak yang mencoba menyusup ke dalam barisan kaum Muslimin, mereka betujuan hanya untuk memorakporandakan kekuatan Islam?

==========================================================
 
Menjadi Seorang Sahabat 

 
 Ada satu perbedaan antara menjadi seorang kenalan
 dan menjadi seorang sahabat. Pertama, seorang
 kenalan adalah seorang yang namanya kau ketahui,
 yang kau lihat berkali-kali, yang dengannya mungkin
 kau miliki persamaan, dan yang disekitarnya kau
 merasa nyaman. Ia adalah orang yang dapat kau undang
 ke rumahmu dan dengannya kau berbagi. Namun mereka
 adalah orang yang dengannya tidak akan kau bagi
 hidupmu, yang tindakan-tindakannya kadang-kadang
 tidak kau mengerti karena kau tidak cukup tahu
 tentang mereka. 
 
Sebaliknya, seorang sahabat adalah seseorang yang
 kau cintai.. Bukan karena kau jatuh cinta padanya,
 namun kau peduli akan orang itu, dan kau
 memikirkannya ketika mereka tidak ada.
 Sahabat-sahabat adalah orang dimana kau diingatkan
 ketika kau melihat sesuatu yang mungkin mereka
 sukai, dan kau tahu itu karena kau mengenal mereka
 dengan baik. Mereka adalah orang-orang yang fotonya
 kau miliki dan wajahnya selalu ada di kepalamu.
 Mereka adalah orang-orang yang kau lihat dalam
 pikiran mu ketika kau mendengar sebuah lagu di radio
 karena mereka membuat dirimu berdiri untuk
 menghampiri mereka dan mengajak berdansa dengan
 mereka atau mungkin kau yang berdansa dengan mereka,
 mungkin mereka menginjak jari kakimu, atau sekedar
 menempatkan kepala mereka di pundakmu. Mereka adalah
 orang-orang yang diantaranya kau merasa aman karena
 kau tahu mereka peduli terhadapmu. Mereka menelpon
 hanya untuk mengetahui apa kabarmu, karena sahabat
 sesungguhnya tidak butuh suatu alasanpun. 
 
Mereka berkata jujur-pertama kali - dan kau
melakukan hal yang sama. Kau tahu bahwa jika kau
memiliki masalah, mereka akan bersedia mendengar.
Mereka adalah orang-orang yang tidak akan
menertawakanmu atau menyakitimu, dan jika mereka
benar-benar menyakitimu, dan jika mereka benar-benar
menyakitimu, mereka akan berusaha keras untuk
memperbaikinya. Mereka adalah orang-orang yang kau
cintai dengan sadar ataupun tidak. Mereka adalah
orang-orang dengan siapa kau menagis ketika kau
tidak diterima di perguruan tinggi dan selama lagu
terakhir di pesta perpisahan kelas dan saat wisuda. 
Mereka adalah orang-orang yang pada saat kau peluk,
kau tak akan berpikir berapa lama memeluk dan siapa
yang harus lebih dahulu mengakhiri. Mungkin mereka
adalah orang yang memegang cincin pernikahanmu, atau
orang yang mengantarkan / mengiringmu pada saat
pernikahanmu, atau mungkin adalah orang yang kau
nikahi

Enter supporting content here